ARTIKEL

Rendang, Adakah Gizi dan Manfaatnya bagi Kesehatan?

Oleh : Admin

Sebagai makanan tradisional masyarakat Padang, Sumatera Barat, rendang sempat dinyatakan sebagai makanan terlezat di dunia pada survei CNN tahun 2011 silam. Tidak hanya lezat, kandungan gizi rendang juga menarik untuk diketahui.

Rahasia kelezatan menu rendang terletak pada kekayaan rempah dan metode pengolahannya. Bahan-bahan dasar yang digunakan untuk membuat rendang seperti daging, santan, dan bumbu harus melalui pengolahan yang cukup rumit untuk kemudian dapat dihidangkan.


Rumitnya proses memasak rendang

Perlu Anda ketahui, proses memasak rendang setidaknya memakan waktu 6 hingga 7 jam dengan suhu sekitar 80-95 derajat celsius. Memang rumit jika diperhatikan. Sebab, untuk menjadi sebuah rendang, daging yang dimasak harus melalui tahapan menjadi 3 jenis makanan, yakni gulai, kalio, baru kemudian menjadi rendang.

Setelah bahan baku utama rendang yaitu daging, santan, dan bumbu dimasak, beberapa saat kemudian biasanya saus atau kuahnya akan berwarna kekuningan dan masih bersifat cair. Pada tahap ini, masakan tersebut disebut dengan gulai.

Ketika sausnya semakin pekat dan berwarna kecokelatan, masakan boleh disebut dengan kalio. Terakhir, ketika sausnya mengering, pekat, dan berwarna cokelat tua kehitaman, daging yang Anda masak baru bisa disebut dengan rendang. Tidak heran, ya, kalau proses memasaknya memakan waktu sampai dengan 7 jam.

Lalu, dari proses pengolahan makanan yang rumit dan memakan waktu lama tersebut, adakah kandungan gizi dan manfaat mengonsumsi rendang bagi kesehatan?

Kandungan gizi di dalam rendang

Pengolahan rendang tidak dapat dimungkiri akan memengaruhi kandungan nutrisinya, baik secara positif maupun negatif. Positifnya, pengolahan yang demikian kompleks akan mempermudah usus dalam mencerna daging, karena tekstur daging menjadi lebih empuk.

Selain itu, jenis protein daging rendang paling mudah dicerna dibandingkan dengan daging mentah dan daging kalio. Sehingga, ketika melalui usus, asam amino dari daging rendang akan paling banyak diserap dan masuk ke dalam tubuh. 

Namun, rendang yang pada dasarnya mengandung lemak dan protein yang tinggi akan mengalami perubahan kadar nutrisi saat dimasak. Karena dimasak paling lama dibanding dengan gulai dan kalio, kadar asam amino esensial di dalam rendang cenderung paling sedikit. Sebaliknya, kandungan persentase lemaknya menjadi paling tinggi.

Hal ini terjadi karena daging yang melewati proses pemanasan dalam jangka waktu lama akan menimbulkan reaksi antara asam amino (dari protein) dengan gula atau asam amino dengan produk oksidasi lemak yang. Kondisi ini disebut dengan reaksi Maillard.

Reaksi Maillard akan mengubah kualitas makanan, baik dari aroma, rasa, warna, tekstur, dan komponen zat gizinya. Dalam proses pembuatan rendang, asam amino esensial seperti lisin dan leusin pada daging pun menjadi rusak.

Asam amino esensial sendiri merupakan asam amino yang pemenuhan kebutuhannya harus didapatkan dari makanan yang dikonsumsi setiap hari, sebab tidak dapat dihasilkan oleh tubuh.

Penurunan kadar asam amino esensial dari daging mentah ke daging kalio menurun dari 11.42 persen hingga 6.20 persen. Sedangkan, penurunan kadar asam amino esensial dari daging kalio menjadi daging rendang bisa turun hingga 17.55 persen akibat dari proses pemanasan yang lama.

Jika disimpulkan, untuk mempermudah proses pencernaan, daging rendang memang yang paling baik dibanding gulai maupun kalio, karena teksturnya yang lebih mudah dicerna. Namun, dari segi kandungan gizi, rendang menempati peringkat terbawah dari segi kandungan asam amino esensial, bila dibandingkan dengan gulai dan kalio.

Jadi, baik atau burukkah rendang bagi kesehatan?

Bahan baku utama rendang yaitu daging merah, sebenarnya mengandung asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh. Namun salah satu bahan pembuat rendang yaitu santan juga mengandung asam lemak jenuh yang cukup tinggi. Hal inilah yang menyebabkan rendang berisiko untuk kesehatan.

Menurut American Heart Association, asam lemak jenuh dapat meningkatkan kolesterol di dalam darah, sehingga konsumsi kolesterol total harian sebaiknya dibatasi.

Sebab, peningkatkan kadar kolesterol di dalam darah dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Tidak hanya rendang, gulai dan kalio juga bersifat sama.

Namun, jika Anda ingin tetap mengonsumsi rendang, selama makan imbangi dengan asupan sayuran yang direbus. Di rumah makan khas Padang biasanya disediakan daun singkong rebus yang sehat.

Jenis sayuran ini bisa Anda jadikan menu pendamping rendang. Nasi merah juga bisa menggantikan nasi putih Anda untuk mengurangi lonjakan asupan karbohidrat.

Selain itu, perbanyaklah konsumsi buah-buahan dan kacang-kacangan setelah makan rendang, untuk memenuhi kebutuhan serat serta mineral yang dapat menetralisir lemak jenuh pada rendang.

Akan lebih baik lagi bila Anda membuat rendang sendiri di rumah. Meski lebih repot, mengolah makanan di rumah cenderung lebih sehat.

Anda dapat mengganti santan dengan susu rendah lemak atau cooking cream yang tidak tersaturasi atau biasanya berlabel ‘unsaturated’. Dengan rasa yang mirip santan, rendang yang Anda masak di rumah pastinya juga tak kalah sedap dengan yang dijual di rumah makan Padang.

Rendang yang dianggap sebagai makanan terlezat di dunia ini ternyata menyimpan banyak keunikan Mulai dari bahan baku, proses pengolahan hingga komponen zat dan gizi di dalamnya. Anda penyuka rendang? Boleh-boleh saja mengonsumsinya, asalkan imbangi dengan asupan sehat lainnya serta rutinlah berolahraga. Terakhir, jangan lupa untuk rajin mengecek kadar kolesterol Anda untuk menjaga kesehatan.

By Admin